Inilah ujian. Ia akan senantiasa membersamai alur hidup anak manusia.
Sekian lama ia menjaga kesucian hatinya, kini hati yang begitu ia jaga mulai ternodai oleh satu nama. Ya, ia menyadari fitrahnya sebagai manusia biasa. Ia memiliki hati yang begitu rapuh, tergoyahkan oleh sebuah nama yang
belum halal baginya. Ia jatuh hati.
Tak habis fikir, bagaimana mungkin amanah yang sejatinya memuliakan, berganti menjadi siksaan tersendiri baginya. Ia mencintai partner dakwahnya sendiri! Istighfar tak terbendung terus ia lantunkan dalam dzikir hatinya.
Begitu sering hatinya berkata, “ini tidak boleh terjadi. Jangan! Jangan sampai terjadi! Kau akan menodai dakwah ini dengan hatimu yang tak lagi murni! Oh, Allah…, hanya Engkau-lah Dzat Yang dapat Membolak-balikkan hati. Hilangkan rasa ini ya, Rabb.. atau, haruskah ku tinggalkan amanah dakwah ini demi menjaga kesucian hatiku ya, Rabb??”
Sekelumit cerita diatas begitu sering kita jumpai dalam kehidupan nyata. Kehidupan para aktivis dakwah. Yang nyatanya hanya manusia biasa, memiliki fitrah yang sama dengan manusia lainnya. Manusia yang juga rapuh tanpa pertolongan Rabbnya.
Cinta adalah fitrah, namun hadirnya adalah ujian saat diri tak dapat mengelolahnya dengan baik. Sekuat-kuatnya hati memberontak, tak ingin ia ternoda. Namun begitu kuat pula godaan syaithon yang turut masuk mengikuti aliran darah. Timbulah peperangan antara haq dan bathil dalam hati.
Allah tempat bersandar atas segala kegundahan hati. Ia pula yang dapat menjaga hati kita untuk tetap terjaga kesuciannya. Tak jarang, dakwah yang menjadi korban. Terombang-ambing. Komunikasi terhambat karna terhalang rasa yang tak seharusnya ada. Ada bisik batin yang berkata untuk tinggalkan saja amanah dakwah itu, jaga saja hatimu! Tapi tidak sesederhana itu, kawan. Ingat, kau masih punya Allah. Tempatmu menggantungkan segala harap. Termasuk harapmu untuk tetap menjaga kesucian hati dan niat. Dan amanah itu, harus tetap kau genggam erat. Bahkan sampai berpeluh-peluh, berdarah-darah! Tidakkah kau ingat perjuangan Rasulullah agar kau dapat bahagia merasakan Islam seperti saat ini. Kau harus tetap bertahan. Anggap rasa itu sebagai ujian peningkatan kualitas dirimu. Kau akan mampu menjaga izzahmu dan izzah dakwah. Yakinkan saja itu. Tak perlu lagi memikirkan hatimu yang terus bergejolak rindu pada sosok yang tidak halal bagimu. Allah jauh lebih layak untuk rindu itu. Allah akan hadirkan yang terbaik bagimu, jika saatnya tiba.
Kita manusia yang dengan keMaha Baikan Allah, Allah berikan nikmat tarbiyah. Kita sangat menyadari bahwa tak mungkin dakwah terkalahkan hanya karna gejolak hati atas rasa yang seharusnya tersimpan rapih dalam laci hati yang tak mampu kita jangkau letaknya. Kita memang lemah, rapuh.., sangat rapuh. Meski hati menyakini bahwa Allah telah tetapkan yang terbaik bagi diri, namun rasa gelisah dan keterpautan itu tetap ada. Tetap syaithon dengan janjinya akan senantiasa menggoda anak manusia.
Jika kita sadar akan lemah dan rapuhnya hati, mengapa tidak kita dekatkan saja ia dengan Penggenggamnya? Dekat.., jauh lebih dekat. Rapat. Hingga tak ada celah walau hanya sedikit untuk syethon masuk kedalam ruang-ruang dihati yang rapuh itu. Hingga cinta pada mahluk pun adalah buah ketaatan atas cintaNya.
Jika cinta yang ada dalam hati itu telah terpaut pada Dzat Yang Maha Pecinta, maka segala kegundahan hatimu itu akan melebur, hilang tak berbekas. Karna jiwa yang gelisah itu telah temukan kekasih sejatinya. Allahu Rabbul Izzati. Ia akan berubah, menjadi hati yang begitu tenang, hati yang tak lagi memiliki kekhawatirkan barang sedikit, hati yang terpaut, hati yang pasrah atas segala ketetapan, hati yang berbahagia. Ya, dekati Ia…, jagalah Ia.. Maka, Ia akan jauh lebih dekat dan juga menaungimu dalam penjagaanNya, selalu…, dalam nikmat indah cintaNya yang hakiki…
“Tiada daya aku tuk melangkah, bertemu denganMu pun aku tak kuasa. Tapi kepada siapa lagi ku memohon, selain kepadaMu….” _Penghambaan
Tak habis fikir, bagaimana mungkin amanah yang sejatinya memuliakan, berganti menjadi siksaan tersendiri baginya. Ia mencintai partner dakwahnya sendiri! Istighfar tak terbendung terus ia lantunkan dalam dzikir hatinya.
Begitu sering hatinya berkata, “ini tidak boleh terjadi. Jangan! Jangan sampai terjadi! Kau akan menodai dakwah ini dengan hatimu yang tak lagi murni! Oh, Allah…, hanya Engkau-lah Dzat Yang dapat Membolak-balikkan hati. Hilangkan rasa ini ya, Rabb.. atau, haruskah ku tinggalkan amanah dakwah ini demi menjaga kesucian hatiku ya, Rabb??”
Sekelumit cerita diatas begitu sering kita jumpai dalam kehidupan nyata. Kehidupan para aktivis dakwah. Yang nyatanya hanya manusia biasa, memiliki fitrah yang sama dengan manusia lainnya. Manusia yang juga rapuh tanpa pertolongan Rabbnya.
Cinta adalah fitrah, namun hadirnya adalah ujian saat diri tak dapat mengelolahnya dengan baik. Sekuat-kuatnya hati memberontak, tak ingin ia ternoda. Namun begitu kuat pula godaan syaithon yang turut masuk mengikuti aliran darah. Timbulah peperangan antara haq dan bathil dalam hati.
Allah tempat bersandar atas segala kegundahan hati. Ia pula yang dapat menjaga hati kita untuk tetap terjaga kesuciannya. Tak jarang, dakwah yang menjadi korban. Terombang-ambing. Komunikasi terhambat karna terhalang rasa yang tak seharusnya ada. Ada bisik batin yang berkata untuk tinggalkan saja amanah dakwah itu, jaga saja hatimu! Tapi tidak sesederhana itu, kawan. Ingat, kau masih punya Allah. Tempatmu menggantungkan segala harap. Termasuk harapmu untuk tetap menjaga kesucian hati dan niat. Dan amanah itu, harus tetap kau genggam erat. Bahkan sampai berpeluh-peluh, berdarah-darah! Tidakkah kau ingat perjuangan Rasulullah agar kau dapat bahagia merasakan Islam seperti saat ini. Kau harus tetap bertahan. Anggap rasa itu sebagai ujian peningkatan kualitas dirimu. Kau akan mampu menjaga izzahmu dan izzah dakwah. Yakinkan saja itu. Tak perlu lagi memikirkan hatimu yang terus bergejolak rindu pada sosok yang tidak halal bagimu. Allah jauh lebih layak untuk rindu itu. Allah akan hadirkan yang terbaik bagimu, jika saatnya tiba.
Kita manusia yang dengan keMaha Baikan Allah, Allah berikan nikmat tarbiyah. Kita sangat menyadari bahwa tak mungkin dakwah terkalahkan hanya karna gejolak hati atas rasa yang seharusnya tersimpan rapih dalam laci hati yang tak mampu kita jangkau letaknya. Kita memang lemah, rapuh.., sangat rapuh. Meski hati menyakini bahwa Allah telah tetapkan yang terbaik bagi diri, namun rasa gelisah dan keterpautan itu tetap ada. Tetap syaithon dengan janjinya akan senantiasa menggoda anak manusia.
Jika kita sadar akan lemah dan rapuhnya hati, mengapa tidak kita dekatkan saja ia dengan Penggenggamnya? Dekat.., jauh lebih dekat. Rapat. Hingga tak ada celah walau hanya sedikit untuk syethon masuk kedalam ruang-ruang dihati yang rapuh itu. Hingga cinta pada mahluk pun adalah buah ketaatan atas cintaNya.
Jika cinta yang ada dalam hati itu telah terpaut pada Dzat Yang Maha Pecinta, maka segala kegundahan hatimu itu akan melebur, hilang tak berbekas. Karna jiwa yang gelisah itu telah temukan kekasih sejatinya. Allahu Rabbul Izzati. Ia akan berubah, menjadi hati yang begitu tenang, hati yang tak lagi memiliki kekhawatirkan barang sedikit, hati yang terpaut, hati yang pasrah atas segala ketetapan, hati yang berbahagia. Ya, dekati Ia…, jagalah Ia.. Maka, Ia akan jauh lebih dekat dan juga menaungimu dalam penjagaanNya, selalu…, dalam nikmat indah cintaNya yang hakiki…
“Tiada daya aku tuk melangkah, bertemu denganMu pun aku tak kuasa. Tapi kepada siapa lagi ku memohon, selain kepadaMu….” _Penghambaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar