Wajah Sendu dalam Sebuah Foto
“Kamu... benar-benar ingin berhenti kerja ?” ucap Tari tampak
sedih.
“Ya... mau bagaimana lagi. Aku kan
harus lanjut kuliah. Lagi pula disini nggak boleh kerja paruh waktu kan...” jelasku
panjang lebar.
Tari
hanya mengangguk pasrah, ia tak mungkin melarangku tuk melanjutkan kuliah. Aku
kasihan juga melihat Tari yang tampak mulai tak bersemangat, yah... 2 bulan aku
bekerja di pengetikan komputer ini tidak butuh waktu yang lama untuk membuatku
akrab dengannya. Kami sudah layaknya saudara, berbagi suka dan duka, bercanda
dan tertawa bersama. Kesibukan tidak menjadi penghalang bagi kami untuk tetap
menjaga ukhuwah itu.
Sebelum
meninggalkan tempat itu, terpikir olehku untuk mencetak beberapa foto kenangan
bersama para karyawan tempat itu, tak terkecuali foto bersama Tari. Tapi entah
dorongan apa, yang membuatku mencetak sebuah foto yang sama sekali bukan
karyawan tempat itu.
Hari
semakin panas, aku melepas lelah diatas tempat tidurku. Ingin terlelap, tapi
mata tak mau menurut. Teringat olehku beberapa foto yang telah aku cetak.
Kuraih sebuah benda berwarna coklat, yang tak lain adalah tas ranselku. Kutarik
resleting tas itu perlahan, dan dengan lincahnya tanganku mengambil beberapa lembar
kertas glossy ukuran 3 R. Kupandang foto tersebut satu per satu sambil
senyum-senyum sendiri dan terkadang aku tertawa geli melihat ekspresi teman
kerjaku. Mereka sungguh baik terhadapku, tiba-tiba aku begitu rindu dengan tawa
mereka, padahal baru satu jam yang lalu aku ditempat itu.
Ekspresi
wajahku tiba-tiba berubah 180o saat tanganku menggenggam sebuah foto
ukuran dompet. Dalam foto itu tampak seseorang dengan wajah sendunya dan mata
yang begitu teduh. Tampak begitu arif dengan seragam hijaunya dan dibagian kiri seragamnya terdapat tulisan “TNI AD”.
Yah... dia adalah kak Adit, sosok yang begitu baik terhadapku. Ia selalu turut
membantuku dalam melengkapi berkas-berkas beasiswa kuliahku. Aku banyak hutang
budi terhadapnya, aku tak pernah dapat menolak
ketika ia menawarkan bantuan. Bagaimana tidak, setiap aku menolak ia selalu
berkata, “Kakak hanyalah perantara dari Allah untuk membantu adik.” begitu
bijak ucapannya. Sosok sendu ini pula telah mengajarkanku beberapa shalawat
yang sering dibacanya ba’da maghrib dan subuh. Walaupun ia adalah seorang
prajurit negara yang tiap harinya bergelut dengan senjata tapi ia tak pernah
lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah. Ia senantiasa selalu menjaga shalat
lail-nya, hafalan kitabnya juga tak pernah absen. Saat berbicara denganku ia
selalu tundukkan pandangan, ia mengerti syariat islam dengan baik. Sungguh imam
yang baik untuk keluarganya kelak, beruntunglah orang yang mendampinginya
nanti. InsyaAllah.
Namun
satu bulan terakhir ini, kak Adit tak pernah lagi muncul dihadapanku. “Kakak
lagi di Maros, ada tugas bersama komandan” kabar terakhir dari kak Adit sebulan
lalu. Setelah itu tak ada lagi ia memberi kabar, terlalu sibuk mungkin. Lagi
pula kami hanyalah sebatas teman, tak ada kewajiban bagi kak Adit untuk
melaporkan setiap kegiatannya padaku. Tapi aku khawatir terhadapnya, kenapa aku
khawatir ? Astaghfirullah bukan hak aku untuk khawatir berlebih terhadap
seseorang yang tidak halal bagiku.
“Lelaki impian yang ku
dambakan adalah seorang yang berakhlak mulia....” Nasyid ini terdengar merdu ditelingaku, sontak membuatku tersadar
dari lamunanku. Ternyata ada pesan dari Tari, masih juga ia bersedih dengan
kepergianku. Sambil membalas pesan Tari, teringat aku akan sesuatu,
“Astaghfirullah... aku belum melaksanakan shalat dhuhur”. Seketika aku beranjak
dari tempat tidur, dan bergegas mengambil air wudhu.
⃰ ⃰ ⃰
Sudah
dua bulan aku mendapat gelar mahasiswi. Dua bulan pula foto wajah sendu itu
menjadi penghuni dompet kecilku, yah sekadar kenangan bahwa aku hutang budi
pada wajah sendu itu. Meski setia ia berada diantara uang yang kusut, namun tak
pernah aku membuka dan melihat foto itu lagi, aku tak berani, takut tertancap
panah iblis walau hanya lewat sebuah foto. Dan masih seperti biasa, kak Adit
tak pernah memberi kabar lagi, ia hilang bagai ditelan bumi.
Hari Ahad, kak Putri anak tunggal dari kakak tertua ummi datang
berkunjung dirumahku. Kak Putri punya kebiasaan meneliti barang-barang milikku,
entahlah apa yang dicarinya tapi itu sudah menjadi kebiasaan yang wajar bagiku.
“Risa,
ini dompet kamu yah ? lucu sekali...” kata kak Putri memuji.
“Iya
kak... aku udah punya ktp loh... liat aja deh.” ucapku santai. Mendengar ucapanku
dengan lihainya kak Putri meneliti seperti seorang detektif.
“Astaghfirullah,
aku lupa disana ada foto kak Adit” batinku. Seketika aku menjadi panik, tubuhku
kaku, aku hanya melihat kak Putri dengan pasrah. Tapi, tampaknya tangan kak
Putri belum menemukannya, aku sedikit lega. Aku mengendalikan diri, tarik nafas
dalam-dalam dan berusaha tampil senormal mungkin.
“Belum
ketemu ktp nya yah kak ?” kataku mengalihkan.
“Mari
kubantu dan . . .” akupun merebut dompet itu dan berlari secepat mungkin tuk menyembunyikan
foto sendu itu ditempat yang aman. Kak Putri mengejar, tapi karena tubuhnya
yang agak berisi membuatnya tidak bebas bergerak.
“Apa
sih yang kamu sembunyikan ? Risa udah punya pacar yah...” kata kak Putri
meledek. Aku hanya diam, yah diam seribu bahasa.
“Hampir
saja” batinku. Kak Putri masih menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya, aku sedikit
risi dibuatnya.
“Aku
malu kak... sangat malu. Disana ada foto seseorang yang bukan mukhrim-ku. Tapi
dia bukan pacarku kak. Kakak kan tahu prinsipku, ‘menikah tanpa pacaran’. Maaf
yah kak, untuk yang satu ini aku main rahasiaan.” gerutuku dalam hati.
“Risa
udah punya pacar yah? Kok pertanyaan kakak tidak dijawab...” kak Putri mulai
mencolek.
“Tidak,
kakak tau prinsip aku kan” ucapku dengan nada datar.
Kak
Putri tak menggubris lagi, ia terdiam. Hening. Tiba-tiba kak Putri tertawa dan
tertawa lagi, wajahku memerah, aku terpojokkan. Aku marah... bukan sama kak
Putri, bukan sama foto itu, tapi sama diriku sendiri. Akulah yang mencetak foto
itu, akulah yang menyimpan foto itu, dan karena aku pula foto itu hampir dilihat
oleh orang lain. Tak dapat kubayangkan, betapa malunya aku jika kak Putri
menemukan foto itu. Aku malu ? Astaghfirullah... selama ini aku malu terhadap
kak Putri, tapi aku tidak malu kepada Allah. Menyimpan foto seseorang yang
bukan mukhrimnya, tentu merupakan perkara yang salah kulakukan. Dan selama ini
aku tidak sadar, mungkin kejadian bersama kak Putri inilah sebagai teguran dari
Allah. Wallahu ‘alam.
“Hhm...
kakak pulang dulu yah... adik kecilku. Assalamu alaikum” pamit kak Putri
padaku.
“Wa
alaikum salam. Hati-hati dijalan kak...”
“Oh
ya . . . lain kali cerita yah... ” kak Putri senyum jahil. Aku hanya tersenyum
kecut mendengarnya.
“Tak
ada yang perlu diceritakan” ucapku dalam hati.
⃰ ⃰ ⃰
Yah...foto
kak Adit hampir membahayakanku, sungguh sangat tak baik jika aku menyimpannya
terlalu lama. Aku bergegas mengambil foto itu dari tempat persembunyiannya, tepat
dibawah lap kaki ruang makan, tempat yang menurutku aman dari penelitian kak
Putri. Dan benar saja kak Putri tak berhasil menemukannya. Aku pun kembali ke
kamar, mengunci pintu rapat-rapat. Kini foto itu telah berada ditangan kiriku,
dan bersiap-siap gunting kecil ditangan kananku. Aku memperbaiki posisi
dudukku, tegap dengan nafas yang sudah terkendali.
Tangan
kananku telah bersiap, dan . . .
“Tunggu...
kamu yakin akan menggunting foto sendu itu ?” tiba-tiba batinku angkat bicara.
“Tentu”
kataku yakin.
“Kan...
sayang. Itu foto kak Adit satu-satunya, simpan di album foto saja. Kalau ada
yang liat, paling mereka berfikir itu teman
sekolah kamu. Aman-aman saja kok. Percaya deh...” batinku masih nyerocos bebas.
“Ingat
Risa, kak Adit tidak halal bagimu. Kamu salah besar jika masih menyimpan foto
itu.” batin yang lain mulai angkat bicara.
“Risa...
itu hanya sebuah foto. Apa bedanya foto kak Adit dengan teman-teman yang lain ?
Sudah... simpan saja di album.” batin yang satu masih sibuk meyakinkan.
“Benar
juga, lebih baik aku simpan di album, sayang kalau digunting.” Kataku mulai
goyah.
“Risa....
sadar. Kamu adalah seorang muslimah. Sangat tidak pantas jika kamu masih
menyimpang seperti itu. Kamu tidak takut zina mata ? Ingat... sesungguhnya
mendekati zina itu adalah jalan yang buruk. Apa kamu tidak malu pada Allah ?” batin
yang lain kembali mengingatkan. Aku sontak kaget dengan pernyataan batinku ini,
aku hampir salah lagi dalam bertindak.
“Astaghfirullah...
ampuni hamba ya Allah” aku kembali sadar dan memperbanyak istighfar.
Perdebatan batinku
hampir membuatku goyah dan mengurungkan niat baikku. Tapi Allah masih sayang
padaku, dan memberikanku petunjuk mana yang terbaik yang sebaiknya kulakukan.
Dan...
“bismillah...”
dengan mengucapkan basmalah aku mulai menggunting foto sendu itu. Terbagi dua,
terbagi empat, terbagi delapan, dan semakin kecil lagi...kini tinggal
serpihan-serpihan kertas yang tak jelas gambarnya. Aku membersihkan serpihan
itu dengan teliti, agar tak ada yang tercecer walaupun sebesar biji sawi.
Dengan bangga aku membawa serpihan itu keluar rumah, menuju tempat pembakaran
sampah. Dan kini ia bersatu dengan api yang meluap-luap, yang sebentar lagi
akan mengubahnya menjadi debu. Aku tersenyum puas, aku masih berada di jalan
yang benar.
“Kelak...
aku akan dapatkan wajah yang halal untukku. Insya Allah.”
⃰ ⃰ ⃰
Watampone, 26 Juli 2012 22:48 WITA. (6 Ramadhan 1433 H)
Bismillah.
Andi Riska Sartina, lahir di Watampone, 11 September 1994. Lulus SMA Negeri 4 Watampone tahun 2012. Melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Makassar dengan prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Alamat fb : andi.sartina.9@facebook.com, twitter : @a_riska30.
Syukron telah membaca... :)
Kritik dan saran ditunggu... _~
Andi Riska Sartina, lahir di Watampone, 11 September 1994. Lulus SMA Negeri 4 Watampone tahun 2012. Melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Makassar dengan prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Alamat fb : andi.sartina.9@facebook.com, twitter : @a_riska30.
Syukron telah membaca... :)
Kritik dan saran ditunggu... _~
Dapat juga dilihat di : http://www.lokerseni.web.id/2012/07/cerpen-islam-wajah-sendu-dalam-sebuah.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar